Dalam proyek ini saya berperan sebagai animator. Saya mengenal Bu Atik (Siti Adiyati) sejak tahun 2024 ketika pameran TABON di Jogja National Museum. Bu Atik melihat karya-karya animasi yang saya kerjakan bersama perupa Samuel Indratma dan Faisal Kamandobat pada pameran tersebut, kemudian tertarik dan mengajak saya untuk terlibat dalam proyek animasi untuk pameran tunggalnya, “Seni Blero”. Proses pembuatan animasi ini dikerjakan dari bulan Mei 2024, dimulai dengan karya animasi Universe, kemudian Krakatau, Genesis, 12 panel, Semprang, Animasi Pembukaan, dan Lorong rasa.
Pertemuan kami cukup intens, sebulan kami bisa bertemu sampai 3 kali. Saya ingat dulu pas awal-awal saya diminta untuk merespon karyanya bu Atik, namun hasil respon saya seperti karya animasi wayang, dan beliau tidak menghendaki itu, ingin yang berbeda dan sesuai dengan kekayaannya. Kemudian saya merespon karyanya dengan lebih eksperimental, karena pada karya Universe lukisannya seperti abstrak, jadi saya seperti menyulam, memotong, mengkomposisikan ulang, memberikan kedalaman, melelehkan, membentuk, memberikan gelombang pada potongan karyanya, sehingga animasinya lebih mengalir dan sesuai dengan karya lukisannya. Kita penonton seperti diajak memasuki dan melihat lebih dalam dari lukisannya.
Menerjemahkan karya
Saya dan tim sudah sadar dari awal bahwa membuat animasi dengan seniman akan memiliki keunikan-keunikan tersendiri dalam proses produksinya. Begitu pula dengan Bu Atik. Idenya selalu bertumbuh ketika saya memperlihatkan progres-progres animasinya. Setiap shot ia amati, sangat detail, tak jarang ia menonton preview-nya berkali-kali. Dari rencana durasi awal yang tadinya 4 menit, bisa hasil akhirnya jadi 7 menit. Mungkin kalau disandingkan dengan preview awal dan hasil final animasinya akan sangat berbeda. Tingkat kerumitan dan kedalamannya berbeda. Tapi saya juga kadang takjub dan senang dengan hasil akhirnya. Kami tidak membayangkan hasil akhirnya seperti ini.
Menerjemahkan karya visual Bu Atik ke animasi tidak lah mudah. Ia banyak menggunakan media yang berbeda sebagai aset animasinya, dari lukisan, gambar di kertas, instalasi dan foto. Kadang kami berhadapan dengan kendala resolusi, tak jarang kami harus memotret atau scan ulang karyanya untuk mendapatkan kualitas yang terbaik. Dari sumber-sumber inilah kami mencoba mengkomposisikan ulang sesuai narasi yang Bu Atik bangun. Laut dari foto lukisan, pohon dari gambar kertas, dan karakter dari instalasi atau sebaliknya.
Komunikasi intens kami lakukan di rumahnya Bu Atik atau di studio saya. Diskusi juga kami lakukan melalui Whatsapp. Bu Atik sering mengirimkan video dan gambar sebagai referensi untuk karyanya. Kami berdiskusi tidak hanya seputar karya yang sedang kami produksi melainkan tentang banyak hal.
Teknik yang kami gunakan pada karya animasi Bu Atik adalah cut-out digital. Teknik membuat animasi dengan cara memotong objek (karakter, properti, atau latar) menjadi bagian-bagian terpisah, kemudian menggerakkannya secara digital menggunakan software animasi. Teknik ini kami pikir sangat sesuai untuk merespon karya Bu Atik, kami menjadikan semua elemen yang digunakan dari karya-karyanya, sehingga tidak menghilangkan esensi-esensinya. Karyanya seperti kami hidupkan.
Petuah kreatif
Saya sering bertanya tentang masa muda dan proses berkesenianya Bu Atik, seolah-olah seperti cucu yang bertanya kepada neneknya tentang masa hidupnya. Tak jarang saya selalu mendapatkan petuah dan saran untuk saya berkembang.
Petuah yang saya ingat ialah “Jangan sampai kita dikontrol alat, kita yang harus mengontrol mereka”. Kata-kata ini sangat berarti bagi saya sebagai animator, sekarang alat semakin canggih, kita harus bisa mengontrol mereka untuk mendukung proses kreatif yang sedang kita kerjakan.
Proses pengkomposisian inilah yang menurut saya menarik, karena Bu Atik sering meminta kepada saya untuk membuat dunia baru dari karyanya. “Benda di dunia nyata tidak harus menjadi benda yang sama di animasinya.” Ini kalimat yang sering diucapkan Bu Atik yang mendorong saya untuk berimajinasi “Seni Blero”.
In this project, I worked as an animator. I first met Bu Atik (Siti Adiyati) in 2024 during the TABON exhibition at Jogja National Museum. Bu Atik saw the animation works that I made together with artists Samuel Indratma and Faisal Kamandobat. She became interested and invited me to work on animation for her solo exhibition, “Seni Blero.” The animation process started in May 2024. We began with Universe, followed by Krakatau, Genesis, 12 Panel, Semprang, the opening animation, and Lorong Rasa.
We met quite often, sometimes up to three times a month. I remember that at the beginning, Bu Atik asked me to respond to her artwork through animation. My first result looked more like wayang animation, but she did not want that. She wanted something different and something that matched the richness of her work.
After that, I tried a more experimental approach. In Universe, for example, the painting looks abstract. I treated the artwork like fabric: I cut it, rearranged it, gave it depth, melted some shapes, changed their forms, and created waves and movement from parts of the painting. This made the animation feel more fluid and closer to the feeling of the original artwork. The audience feels as if they are entering the painting and looking deeper inside it.
Translating the Artwork
From the beginning, my team and I understood that making animation with an artist would have its own unique process. It was the same with Bu Atik. Her ideas kept growing whenever I showed her the animation progress.
She looked at every shot very carefully. Sometimes she watched the preview many times. At first, the animation was planned to be around four minutes, but the final result became seven minutes. If we compare the first preview with the final animation, they look very different. The final work became more complex and had more depth. Sometimes I was also surprised and happy with the final result. We did not imagine that it would become like this.
Turning Bu Atik’s visual artwork into animation was not easy. She uses many different kinds of media, so our animation assets came from paintings, drawings on paper, installations, and photographs.
Sometimes we had problems with image resolution. We often had to photograph or scan the artwork again to get better quality. From these different sources, we tried to rearrange and combine the elements based on the story that Bu Atik wanted to build. For example, the sea could come from a photograph of a painting, the trees from drawings on paper, and the characters from an installation, or the other way around.
We communicated quite intensively. Sometimes we met at Bu Atik’s house or at my studio. We also discussed the project through WhatsApp. Bu Atik often sent videos and images as references. Our discussions were not only about the project, but also about many other things.
The technique we used for Bu Atik’s animation was digital cut-out animation. In this technique, objects such as characters, props, or backgrounds are separated into different parts and then moved digitally using animation software.
We felt that this technique was very suitable for Bu Atik’s work because we could use elements directly from her original artworks. In this way, we did not lose the essence of her work. It was like bringing her artworks to life.
Creative Advice
I often asked Bu Atik about her younger years and her journey as an artist. It sometimes felt like a grandchild asking a grandmother about her life. From these conversations, I often received advice and lessons that helped me grow. One piece of advice that I always remember is “Do not let the tools control us. We must control the tools.” These words are very meaningful to me as an animator. Today, technology and creative tools are becoming more advanced, but we still need to control them and use them to support our creative process. The process of combining and arranging the visual elements was also very interesting for me. Bu Atik often asked me to create a new world from her artwork. She often said: “An object in the real world does not have to become the same object in animation.” This idea encouraged me to imagine more freely and helped me create the animated world of “Seni Blero.”